2 Minggu yang lalu saya dan suami bertengkar hebat
lewat telepon tentu saja,
karena saya di Sidoarjo dan dia ada di Majalengka
Sudah Seminggu lebih dia ditugaskan kantornya di majalengka.
tak perlu saya ceritakan karena masalah apa, cukup hanya saya dan suami yang tahu.
yang jelas hari itu kami bertengkar hebat. Sepulang kantor, melalu telepon
didalam kamar, saya menangis hebat....
Kalau selama ini saya sering mencibir Artis2 yang kawin-cerai
Rasanya saya sudah mulai tau apa yg ada dipikiran mereka ketika itu...
Ya, menyatukan 2 pikiran memang tidak mudah
Diperlukan pengertian yang tinggi
toleransi yang tinggi
Saya merasa dia tidak memperdulikan saya
terlalu cuek
tidak sayang kepada saya
beribu kata2 kekecewaan saya lontarkan, tapi dia hanya diam membisu.
Entah, saya tak bisa menebak apa yanga da dipikirannya.
Yang jelas keesokan harinya, dia minta maaf, dan.., kami berjanji akan membicaraknnya ketika dia Pulang Seminggu kemudian,,
Tepatnya, 7 April 2013
Saya marah, saya kecewa, resah,
Memang ketika hari sabtunya dia datang kerumah,
sedanga da acara tasyakuran Turun Tanah Salsa, keponakan saya
rumah penuh sesak dengan sanak saudara sampai malam
Minggunya, dia malah tidur seharian,,,
Saya sedih doonkkk,, kalo kangen kenapa tidur?
kenapa ga ngobrol sama saya?
kenapa ga tanya kabar?
ketika saya protes,
marah, ngambek, dia keluar kamar...entah kemana,
Saya menagis sejadi2nya
saya merasa sendiri
merasa tidak diharapkan
merasa dikesampingkan...
Ketika Ashar tiba, dia mulai bersiap2 kembali ke kediri ( kali ini dia harus berangkat ke kediri)
setelah sholat, saya minta dia duduk dihadapan saya,,,
saya bertanya
"Kenapa mas menikah dengan saya?"
dengan tegas dia menjawab "karena mas Cinta"
saya bertanya kembali "apa mas bahagia?"
Dia jawab lantang "bahagia, adek ga bahagia?"
saya diam
saya tak mampu menjawab,,,
saya bahkan tidak tahu apakah saya bahagia atau tidak,
bahkan saya tidak tahu apa yang saya inginkan dengan mengajukan pertanyaan itu...
melihat saya tak menjawab, hanya mampu menangis,
Dia segera merai tasnya membereskan apa2 yang akan dibawanya pergi dengan amarahnya yg saya tau mulai memenuhi rongga dadanya.
Saya segera bangkit, mengunci pintu kamar, saya tak ingin dia pergi
melihat apa yg saya lakukan, dia terduduk ditepi ranjang...
Saya menatapnya...
Tiba2 dia berdiri, memeluk saya
seraya berkata, "kamu kenapa sayang? mas cinta adek, mas bahagia menikah dengan adek."
Saya bahkan tak mampu menjawab, hanya tenggelamdalam pelukannya dengan simbahan airmata...
Ternyata, saya merindukan pelukannya, hanya itu...
pelukan hangat suami saya, yang tidak romantis, tapi tak pernah egois....